24.Aug.2023

Kalau Kamu Penakut, Jangan Tonton 5 Tarian Mistis Asal Indonesia Ini


 

0
0
0

5 Tarian Mistis Indonesia - Hai Aladiners! Siapa yang suka nari? Angkat tangan! Tumben, nih, Mister nanyain yang suka nari. Wo ya, jelas, soalnya Mister mau ngebahas soal tari. Tari apa, sih? Yang jelas bukan sembarang tari, melainkan tari yang mengandung unsur mistis. Wihhh, tari yang mengandung unsur mistis? Boljug, tuh. Penasaran? Yuk, dah, langsung aja baca artikel tentang 5 tarian mistis asal Indonesia ini.

1. Tari Sigale-gale (Sumatra Utara)

Sumber gambar: Wikipedia

Sigale-gale adalah patung kayu berbentuk manusia. Nama sigale-gale diambil dari nama Manggale, anak Raja Rahat, Raja Batak Samosir. Suatu hari, Manggale meninggal dalam peperangan. Raja Rahat sedih kehilangan anak kesayangannya.

Untuk menghibur raja, masyarakat Batak Samosir membuatkannya patung manusia yang mirip Manggale. Patung ini lalu dikemas dalam pertunjukkan tari yang melibatkan 8 – 10 penari tor-tor.

Supaya patung hidup, diundanglah roh Manggale untuk merasuki patung sehingga patung bisa bergerak seperti manusia. Gerak seperti apa? Gerak menarikan tari tor-tor. Di sinilah letak sisi mistisnya yang mana melibatkan roh orang yang udah meninggal.

Lambat laun, masyarakat Batak Samosir menyebut patung tiruan Manggale itu sebagai sigale-gale. Zaman sekarang, buat menggerakkan sigale-gale, nggak lagi dengan memanggil roh, tapi digerakkan lewat tali di belakang patung.

2. Tari Rentak Bulian (Riau)

Sumber gambar: Shutterstock

Orang menarikan rentak bulian untuk menyembuhkan orang sakit. Yup, tari ini adalah tari dengan tujuan pengobatan. Penarinya adalah tujuh perempuan dan satu laki-laki yang disebut kumentan. Orang yang jadi kumentan haruslah keturunan leluhur warga Talang Mamak, warga empunya tari rentak bulian.

Lokasi pementasan tari rentak bulian adalah di halaman bulian alias rumah persegi empat. Puncak tari ini adalah ketika kumentan nggak sadarkan diri karena udah dirasuki roh leluhur warga Talang Mamak. Dalam kondisi kerasukan, kumentan terus menari tanpa henti.

Setelah roh keluar dari tubuhnya, kumentan bertanya pada orang yang sakit, apakah sakitnya sudah sembuh. Saktinya, nih, biasanya, sakit tersebut langsung sembuh.

Baca juga: 7 Stasiun Kereta Api Paling Seram di Indonesia untuk Kamu yang Hobi Uji Nyali

 

3. Tari Sintren (Jawa Barat)

Sumber gambar: cilacapkab.go.id

Tari sintren dilakukan oleh perempuan. Sebelum membawakan tari tersebut, perempuan harus berpuasa makan, termasuk berpuasa untuk nggak berbuat dosa. Intinya, saat menarikan sintren, perempuan harus dalam kondisi suci.

Mula-mula, penari dimasukkan dalam kurungan dengan kondisi tubuh terikat tali tambang. Kurungan ditutup kain dan begitu kain dibuka, ikatan pada tubuh penari terlepas dan penari sudah berganti kostum plus mengenakan kacamata hitam.

Penari lantas berjoget mengikuti iringan gamelan. Apakah penari bergerak menurut keinginannya? Jelas nggak, karena penari dikendalikan roh yang merasuki tubuhnya.

Sewaktu penari “asyik” menari, penonton diperbolehkan menyawernya dengan uang. Saat dilempari uang, penari terjatuh dan berhenti menari. Ini melambangkan manusia yang kerap kali terlena dengan harta duniawi.

4. Tari Sanghyang Jaran (Bali)

Sumber gambar: Facebook Punapi Bali

Tari sanghyang jaran mirip tari jaranan di Jawa. Penarinya sama-sama menggunakan properti kuda (jaran) buatan. Bedanya, pada tari jaranan, penari beraksi memakan beling, sedangkan pada tari sanghyang jaran, penari bergerak-gerak di tengah jilatan api.

Sebelum pertunjukan sanghyang jaran dimulai, digelar upacara kecil terlebih dahulu di mana pendeta memanjatkan doa dan mempersembahkan sesajen. Sesudahnya, penari pingsan, lalu seolah-olah mendapat kekuatan gaib, ia mulai beraksi dengan beringas di tengah bara api.

Apakah penari terluka? Nggak tentunya, karena mereka bergerak bukan atas dasar kemauan mereka, melainkan ada roh yang merasuki dan melindungi tubuh mereka dari panas api.

5. Tari Salai Jin (Maluku Utara)

Sumber gambar: indonesiakaya.com

Tari salai jin digunakan masyarakat Kota Ternate di Maluku Utara untuk memanggil jin. Tujuan pemanggilan jin adalah untuk membantu mengatasi masalah, misalnya wabah penyakit. Tari ini dibawakan secara berkelompok oleh wanita dan pria.

Pria penari tampil terlebih dahulu dengan membawa wadah yang menguarkan asap kemenyan, selanjutnya disusul wanita penari yang membawa seikat daun palma kering di kedua tangan. Mereka lantas menari berpasangan.

Sesudahnya, para wanita berpindah ke tengah-tengah para pria dan saat itulah hal mistis terjadi. Tubuh para wanita dirasuki roh dan mereka menari tak terkendali.

 

Baca juga: Hiiii Merinding! Ada Museum Santet di Surabaya

 

Komentar

Tinggalkan Komentar: